KEGENITAN NEGERI UPIN-IPIN
Oleh:
Riza Ali Faizin
Ketua GP Ansor Kab. Sidoarjo
Indonesia dan Malaysia bagai air dan
minyak. Tak bisa bertemu. Meskipun sama-sama materi cair, air seakan
emoh bersenyawa dengan minyak. Begitupun minyak, terkesan ogah
bergandeng dengan air. Mereka diciptakan Tuhan berbeda. Walau serumpun
bangsa melayu, sejak era awal Indonesia merdeka, Negara tetangga itu
sering membuat geregetan. Citra menggemaskan dan hobi membuat meradang
pantas disematkan bagi negeri Jiran. Tak Heran bapak bangsa kita
meneriakinya dengan: Ganyang! Betul,betul,betul.
Pidato fenomenal ganyang Malaysia pada
27 Juli 1963 oleh Bung Karno itu, menyusul terjadinya demontrasi
anti-indonesia di negeri Jiran yang menghina bangsa Indonesia dengan
menginjak-injak lambang NKRI. Riwayat menggemaskan juga terjadi beberapa
tahun kemudian, Bung Karno menyatakan keluar dari keanggotaan PBB
karena keberadaan Malaysia. Yang secara sepihak diterima menjadi anggota
tidak tetap Dewan Keamanan PBB walaupun notabene Malaysia –menurut Sang
Proklamator- sebagai Negara boneka atau bentukan Inggris.
Tak hanya itu, negeri samping rumah ini
juga hobi menggeser pagar tetangganya sendiri. Perairan Sambas, pulau
Ligitan, pulau Sipadan dan Blok Ambalat juga di embat. Mereka bagai
Israel berwajah melayu-sayu. Sopan di depan, garang di belakang. Tak
hanya pulau, bahkan warisan kebudayaan bangsa Indonesia pernah di klaim
menjadi milikinya. Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (FORMASBUDI)
pada tahun 2015 lalu, mencatat setidaknya ada 10 budaya Indonesia yang
diklaim sebagai milik Malaysia. Kesepuluh budaya tersebut yaitu: Batik,
Lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, Wayang Kulit, Kuda Lumping, Rendang
Padang, Keris, Angklung, Tari Pendet dan Tari Piring, dan Gamelan Jawa.
Arogansi Malaysia inipun memantik reaksi
marah masyarakat Indonesia. Bisa saja rakyat tanpa komando pemerintah
menggempur habis negeri kecil itu. Semuanya tak akan terselematkan
kecuali Siti Nurhaliza. Pasukan berani mati yang disisipkan oleh
pemerintah Indonesia sudah menyusup ke daerah-daerah vital Malaysia.
Mereka menyamar menjadi TKI, bukan Tenaga Kerja Indonesia, tapi Tentara
Keamanan Indonesia. Yang dikirim sengaja untuk memporak porandakan
Malaysia. Memang betul mereka menyamar menjadi pembantu, namun, itu
adalah posisi paling aman. Karena, jika perang benar-benar meletus, sang
Pembantu langsung menendang keluar rumah Majikan yang kebanyakan
menjijikan itu.
Riwayat penistaan Malaysia memang tak
ada habisnya. Seakan mereka diciptakan Tuhan untuk menistakan kita. Yang
terbaru dan lagi hangat-hangatnya. Event level internasional, SEA GAMES
2017, Malaysia bertindak ceroboh dan bodoh. Mereka dengan sengaja
mencetak bendera kebangsaan Indonesia dengan terbalik. Hal ini
benar-benar disengaja. Mengapa? Karena kegiatan sekelas Sea Games, tentu
melalui Standart Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Sebelum cetak,
segala jenis kesalahan pasti akan melalui proses kontrol terlebih
d
ahulu. Namun kenyataannya? Sungguh keterlaluan.
Cukup sampai disitu? Hahaha, tidak
Jarjit. Bangsa Indonesia dibuat geram lantaran wasit pada sepak takraw
putri banyak menganulir permainan tim Indonesia, yang berakibat walk out-nya
para pemain Indonesia. Pertandingan yang dihadiri langung oleh Menteri
Pemuda dan Olahraga Indonesia, Imam Nahrawi tersebut, yang sebenarnya
menjadi kebanggaan berubah menjadi tangisan lantaran aturan permainan
yang tak masuk akal.
Malaysia bagaimanapun juga, pernah
mempunyai nasib yang sama. Sebagai bangsa rumpun melayu, dulu, Indonesia
dan Malaysia menjadi satu kesatuan kerajaan Nusantara. Namun, semua
berubah saat Negara api menyerang. Ya, imperialisme yang bercokol
membuat dua Negara ini menjadi bangsa terjajah. Indonesia dijajah
Portugis dan Belanda, sementara Malaysia dijajah Inggris. Namun, dari
sinilah sejarah terurai. Mana bangsa yang benar-benar tangguh, dan mana
bangsa bermental boneka. Indonesia merdeka memalui rangkaian perjuangan
yang mati-matian. Kemerdekaan diperoleh dengan tangan sendiri, oleh
bangsa sendiri dan perjuangan sendiri. Tetapi Malaysia tidak, sebagai
Negara terjajah, ia menjadi bangsa yang patuh pada sang penjajah. Untuk
itulah kemerdekaannya bukan melalui perjuangan. Namun atas hasil
pemerberian dari kerajaan Inggris.
Dari perjalanan sejarah bisa dilihat,
mana yang pantas disematkan sebagai bangsa petarung. Indonesia,
bagaimanapun keadaannya, merupakan tamansari yang harus dibela
mati-matian tidak hanya dari penjajahan, tapi juga dari ejekan
bangsa-bangsa lain. sekali bendera kami kau hina? Maka akan kami
kenangkan pada anak cucu, akan kami ajarkan pada mereka. Bahwa Engkau
adalah bangsa yang gegabah. Sebuah Negara persemakmuran Inggris yang
levelnya jauh dibawah kami, Indonesia.
http://www.lintasjatim.com/index.php/2016-04-23-12-25-52/opini/506-kegenitan-negeri-upin-ipin
http://www.lintasjatim.com/index.php/2016-04-23-12-25-52/opini/506-kegenitan-negeri-upin-ipin

Komentar
Posting Komentar